Riba Tidak Dibolehkan, Sedikit Maupun Banyak

Kaidah ini disampaikan Ibnu Abdil Bar dalam kitabnya at-Tamhid Syarh Muwatha’ (14/213)

Ibnu Qudamah mengatakan,
مَا جَرَى الرِّبَا فِي كَثِيْرِهِ جَرَى فِي قَلِيْلِهِ

Semua yang berlaku riba dalam jumlah besar, juga berlaku riba dalam jumlah kecil (al-Mughniy, 4/139)

Kaidah ini semakna dengan pernyataan Ka’ab al-Ahbar,

لَأَنْ أَزْنِيَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ زَنْيَةً أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ آكُلَ دِرْهَمَ رِبًا يَعْلَمُ اللَّهُ أَنِّي أَكَلْتُهُ حِينَ أَكَلْتُهُ رِبًا

Sungguh, aku berzina 33 kali, lebih aku pilih daripada aku makan 1 dirham riba, dan Allah tahu aku sengaja memakannya (HR. Ahmad 21958 dan ad-Daruquthni 2880)

Riba dan Gharar (ketidak jelasan), keduanya sama-sama dilarang, namun yang satu, yaitu gharar diizinkan ketika nilainya kecil. Sementara riba, sekecil apa pun dilarang. Sehingga tidak ada riba yang bisa menjadi legal.
Ibnu Abdil Bar membuat kesimpulan,

اَلرِّبَا لَا يَجُوْزُ قَلِيْلُهُ وَلَا كَثِيْرُهُ وَلَيْسَ كَالْغَرَرِ الَّذِي يَجُوْزُ قَلِيْلُهُ وَلَا يَجُوْزُ كَثِيْرُهُ

Riba tidak dibolehkan, sedikit maupun banyak. Tidak seperti gharar, yang itu dibolehkan jika sedikit dan tidak boleh jika banyak (at-Tahmid Syarh Muwatha’, 14/213)

Mengapa gharar yang sedikit dibolehkan, sementara riba sekecil apa pun dilarang ?

Karena sisi bahaya riba jauh lebih parah dibandingkan gharar. Gharar yang kecil, hampir tidak bisa dihindari dalam transaksi. Sehingga jika semua gharar dilarang, akan sangat merepotkan kehidupan manusia, atau bahkan mereka tidak bisa bertransaksi sama sekali.

Orang beli HP, dia tidak akan pernah tahu detail setiap komponennya. Sehingga isi dalam HP, gharar bagi pembeli dan bahkan bagi penjual. Hanya diketahui bahwa HP ini berfungsi normal. Seberapa tingkat ketahanannya, dia tidak tahu. Ada gharar kecil di sana.

Beli kendaraan, tidak akan pernah dibongkar detail mesinnya. Sehingga tidak tahu isinya. Yang penting dia tahu kendaraan itu sehat dan normal. Dan model gharar semacam ini tidak bisa kita pisahkan dalam setiap transaksi. Sehingga jika ini dilarang, justru akan sangat merepotkan manusia, atau bahkan mereka tidak bisa bertransaksi apa pun. Dan ini bertentangan dengan hukum asal yang ditetapkan dalam syariat bahwa asal jual beli adalah mubah.
Berbeda dengan riba, orang bisa menghindarkannya dalam semua transaksi. Dan itu juga tidak dibuthkan. Sehingga orang diharuskan menghindarinya secara total.
Syaikhul Islam mengatakan,

وَمَفْسَدَةُ الْغَرَرِ أَقَّلُّ مِنَ الرِّبَا , فَلِذَلِكَ رُخِّصَ فِيْمَا تَدْعُوْ الْحَاجَةُ إِلَيْهِ مِنْهُ, فَإِنَّ تَحْرِيْمَهُ أَشَدُّ ضَرَرًا مِنْ ضَرَرِ كَوْنِهِ غَرَرًا

Mafsadah gharar lebih ringan daripada riba. Karena itu dibolehkan untuk gharar karena menjadi kebutuhan umum. Karena jika gharar ini diharamkan, akan lebih membahayakan kehidupan, dari pada bahaya keberadaan gharar dalam transaksi itu (al-Qawaid an-Nuraniyah, 140)

Penerapan Kaidah :

[1] Suku bunga kecil, seperti KUR, hanya 9 % setahun, berarti 0,75 % /bulan.

Sekalipun kecil, tidak bisa menjadi alasan bahwa itu dibenarkan. Karena riba sekecil apapun dilarang.

[2] Koperasi simpan pinjam, sekalipun dengan bunga sangat ringan, tetap dilarang. Karena riba sekecil apa pun hukumnya haram.

Agar jangan sampai ada orang beralasan, kalau riba cuma sedikit, tidak masalah. Karena biar pun kecil, jika riba ini dibiarkan, akan menjadi berlipat-lipat dan sangat besar.
Mengingat sudah sangat jelas, kita tidak perlu panjang lebar soal ini.

Sumber :
Dinukil dari buku ‘Ada Apa dengan Riba ?’, penulis : Ammi Nur Baits, penerbit : Pustaka Muamalah, Cet.3 Dzulhijjah 1438 H/September 2017 M, hal. 92-94

Amar Abdullah bin Syakir

Read more: https://www.hisbah.net/riba-tidak-dibolehkan-sedikit-maupun-banyak/#ixzz6ZfjbNVtQ

SMP DARUL QUR’AN AL WAFA’

SMP Darul Qur’an Al Wafa’ Putra/i adalah sebuah lembaga pendidikan di bawah naungan Yayasan Al Wafa’ Islamiyyah Bogor. Lembaga ini bergerak di bidang pendidikan tingkat SMP atau MTs atau sederajat dengan memadukan kurikulum umum dengan Diniyyah. Berikut materi pelajaran yang diberikan:

  1. Tahfizhul Qur’an
  2. Bahasa Arab
  3. Fiqih
  4. Hadits
  5. Tauhid
  6. Sirah Nabawiyyah
  7. Adzkar
  8. Bahasa Indonesia
  9. Bahasa Inggris
  10. IPA
  11. Matematika

Extra kulikuler

  1. Taekwondo
  2. Komputer
  3. Pramuka
  4. Visi dan Misi
  5. Visi

Mencetak anak didik menjadi Generasi Rabbani yang memiliki ;

  • Pemahaman agama yang benar
  • Kepribadian yang mandiri
  • Wawasan yang Islami
  1. Misi
  • Menanamkan kecintaan santri terhadap Al Qur’an
  • Membiasakan santri dengan kemahiran berbahasa Arab dasar
  • Menumbuhkan Akhlaq Islami pada pribadi santri
  • Membiasakan santri beramal shalih
  • Menanamkan pemahaman beragama dengan manhaj yang benar
  1. Program Unggulan
  • Program Tahfizh 12 juz
  • Program pintar berbicara bahasa Arab yang dimonitor setiap hari
  • Lulus Ujian Nasional kelas 9 (tingkat SMP atau sederajat)
  • Lokasi di bawah kaki Gunung Salak dengan nuansa asri, sejuk dan nyaman
  1. Tenaga Pendidik

Para pendidik SMP Darul Qur’an Al Wafa’ Putra/ i adalah lulusan beberapa kaderisasi Islam baik berupa Ma’had maupun Universitas Islam yang ada di Indonesia dengan kemampuan, intergritas, ilmu dan wawasan yang baik dalam bidangnya.

  1. Target Pencapaian Hafalan
  • Kelas 7

= Lancar baca Al Qur’an dan hafal 4 juz Al Qur’an

  • Kelas 8

= Hafal 6 juz (total 10 juz)

  • Kelas 9

= Hafal 2 juz (total 12 juz)

  1. Fasilitas
  • Ruang Makan
  • Ruang Tamu
  • Bangunan 2 lantai
  • Asrama yang memadai (diawasi CCTV)
  • Aula
  • Masjid
  • Kelas Kondusif
  • Mesin Cuci
  • Kantin
  • Lapangan Sepak Bola
  1. Kontak Person:
  • Putra
  1. Ustadz Abdurrohman, (Indosat, 0857-7778-2166)
  2. Ustadz Ibrohim (Indosat, 0857-0216-1900)

Mencela Takdir dan Tidak Ridha Terhadap Ketentuan Allah

Di antara amalan akidah yang diharamkan oleh Allah dan sering dilakukan oleh sebagian kaum wanita adalah tidak ridha dengan qadha (ketentuan Allah). Dia beriman terhadap takdir yang baik, sedang terhadap takdir yang buruk, dia mengingkarinya. Dia rela dengan takdir yang manis dan menggerutu terhadap takdir yang pahit.

Dari Jabir bin Abdillah –semoga Allah meridhainya- diriwayatkan bahwa ia berkata, Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ حَتَّى يَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَهُ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَهُ

“Seorang hamba tidak dikatakan beriman sampai beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk. Dan, hingga dia mengetahui bahwa apa yang ditakdirkan menimpanya, maka tidak akan pernah meleset, dan apa yang tidak ditakdirkan menimpanya, maka tidak pernah akan menimpa (Shahih Sunan at-Tirmidzi (II/227) (1743)

Kebanyakan yang menggelincirkan kaki manusia adalah berkaitan dengan penentangan terhadap takdir, mencelanya, tidak ridha terhadapnya, mengeluh dan menyandarkan kezhaliman kepadanya. Jika suatu saat rezekinya seret, dia akan berkata,”Ini adalah bentuk kezhaliman. Dan, adakah orang lain yang lebih baik dariku ?” Jika dia melihat orang-orang pergi mencari rezeki lalu sukses, dia akan berteriak,”Duhai seandainya aku seperti mereka, niscaya aku akan mengalami kesuksesan yang gemilang !”

Jika dia melahirkan seorang anak perempuan, padahal yang diinginkan adalah anak lelaki, dia akan berteriak histeris,”ini adalah nasib buruk dan kezaliman yang menyusahkan !”

Jika ada seorang kerabat atau yang dicintainya meninggal dunia, dia akan meratap,”Bukankah ada orang lain di dunia ini, dan bukankah ada orang yang hidup selain aku ?!”

Jika dia melihat ada seseorang tiba-tiba mendapatkan berbagai kenikmatan dunia, dia menganggap tidak ada hikmah dalam pemberian Allah tersebut. Lantas dia berkata, “Sesungguhnya Allah telah memberikan kepada seseorang yang tidak berhak mendapatkannya. “ Di atas inilah dia berjalan, selalu dalam keadaan mengeluh, terus menerus mencela takdir Allah. Bahkan bisa jadi, dia akan mengatakan bahwa tidak adahikmah dan rahmat dalam ketentuan-Nya. Jika ia mau beriman dan menginstropeksi dirinya, memperhatikan pemahamannya, bersabar dan selalu mengharap pahala darinya, maka hal itu tentu lebih baik baginya, baik cepat maupun lambat.

Dari Zaed bin Tsabit diriwayatkan bahwa ia berkata : aku pernah mendengar Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- besabda :

لَوْ أَنَّ اللَّهَ عَذَّبَ أَهْلَ سَمَاوَاتِهِ وَأَهْلَ أَرْضِهِ عَذَّبَهُمْ وَهُوَ غَيْرُ ظَالِمٍ لَهُمْ ، وَلَوْ رَحِمَهُمْ كَانَتْ رَحْمَتُهُ خَيْرًا لَهُمْ مِنْ أَعْمَالِهِمْ ، وَلَوْ أَنْفَقْتَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا فِي سَبِيلِ اللهِ مَا قَبِلَهُ اللَّهُ مِنْكَ حَتَّى تُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ ، وَتَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ ، وَأَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ ، وَلَوْ مُتَّ عَلَى غَيْرِ هَذَا لَدَخَلْتَ النَّارَ

“Sekiranya Allah menghendaki untuk mengazab para penduduk langit dan bumi, niscaya Dia akan mengazab mereka, dan itu bukanlah bentuk kezhaliman Allah kepada mereka. Dan, sekiranya Dia memberi rahmat kepada mereka, niscaya rahmat-Nya lebih baik bagi mereka daripada amal mereka sendiri. Jika engkau memiliki emas sebesar bukit Uhud yang engkau infakkan di jalan Allah, niscaya amalamu tidak akan diterima sampai engkau mengimani takdir secara keseluruhan, dan engkau mengetahui bahwa apa yang ditakdirkan menimpamu, maka tidak pernah akan meleset dan apa yang tidak ditakdirkan manimpamu, maka tidak akan menimpamu. Jika engkau mati tidak dalam keadaan demikian pasti engkau akan masuk Neraka (Shahih Sunan Abi Dawud (II/890) (3699), dan Shahih Sunan Abni Majah (I/19) (62)

Wallahu a’lam